Model Pendidikan Kecakapan Hidup BLiSE (Blended Life Skills Education) pada Warga Belajar PKBM Usia Produktif
pls.unesa.ac.id 12/03/2026
Perkembangan masyarakat di era modern menghadirkan berbagai perubahan dalam cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi di sektor industri atau teknologi, tetapi juga dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan nonformal yang menjadi ruang belajar penting bagi masyarakat. Menyadari pentingnya inovasi dalam pembelajaran masyarakat, dosen Universitas Negeri Surabaya (UNESA), M. Fahmi Zakariyah, S.Pd., M.Pd., mengembangkan penelitian bertajuk “Model Pendidikan Kecakapan Hidup BLiSE (Blended Life Skills Education) pada Warga Belajar PKBM Usia Produktif.” Penelitian ini berupaya menghadirkan model pembelajaran yang lebih adaptif, kontekstual, serta relevan dengan kebutuhan warga belajar di lembaga pendidikan nonformal, khususnya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Perubahan sosial yang terjadi saat ini menuntut masyarakat untuk memiliki keterampilan yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga keterampilan hidup yang dapat digunakan dalam berbagai situasi kehidupan. Kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, hingga keterampilan berkomunikasi menjadi semakin penting di tengah dinamika kehidupan yang terus berkembang. Dalam konteks tersebut, pendidikan tidak lagi dipandang sebatas proses transfer pengetahuan, melainkan juga sebagai proses penguatan kapasitas individu agar mampu menjalani kehidupan secara mandiri dan produktif.
Di Indonesia, pendidikan nonformal memiliki peran yang sangat strategis dalam menjangkau masyarakat yang tidak selalu dapat mengakses pendidikan formal secara optimal. Lembaga seperti PKBM hadir sebagai ruang belajar alternatif yang memungkinkan masyarakat memperoleh berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan mereka. PKBM tidak hanya menyediakan program pendidikan kesetaraan, tetapi juga menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat.
Namun demikian, proses pembelajaran di pendidikan nonformal seringkali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Warga belajar di PKBM umumnya memiliki latar belakang yang sangat beragam, baik dari segi usia, pengalaman hidup, maupun kebutuhan belajar. Banyak dari mereka yang mengikuti program pendidikan sambil bekerja, mengurus keluarga, atau menjalankan aktivitas ekonomi lainnya. Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel, kontekstual, dan mampu menyesuaikan dengan situasi kehidupan warga belajar.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga memberikan pengaruh besar terhadap cara manusia belajar. Akses terhadap internet, perangkat digital, serta berbagai platform pembelajaran daring telah membuka peluang baru dalam dunia pendidikan. Pembelajaran tidak lagi harus berlangsung secara konvensional di dalam ruang kelas, tetapi dapat dilakukan melalui berbagai media digital yang memungkinkan proses belajar menjadi lebih fleksibel dan terbuka.
Melihat kondisi tersebut, M. Fahmi Zakariyah, S.Pd., M.Pd. mengembangkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan kecakapan hidup dengan pemanfaatan teknologi digital melalui model Blended Life Skills Education (BLiSE). Model ini dirancang untuk memadukan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran berbasis teknologi sehingga proses belajar dapat berlangsung secara lebih dinamis dan adaptif.
Penelitian ini dilaksanakan melalui skema Penelitian Dosen Pemula yang didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Surabaya pada tahun 2026 dengan pendanaan sebesar Rp20.000.000. Dukungan pendanaan tersebut menunjukkan komitmen UNESA dalam mendorong para dosen untuk terus menghasilkan inovasi dan kontribusi ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya dalam pengembangan pendidikan.
Dalam konteks pendidikan nonformal, pengembangan model pembelajaran menjadi salah satu aspek yang sangat penting. Pembelajaran yang efektif tidak hanya bergantung pada materi yang disampaikan, tetapi juga pada pendekatan yang digunakan dalam proses belajar. Model pembelajaran yang tepat dapat membantu warga belajar memahami materi secara lebih mendalam sekaligus mendorong mereka untuk terlibat aktif dalam proses belajar.
Melalui penelitian ini, M. Fahmi Zakariyah, S.Pd., M.Pd. berupaya merancang model pendidikan kecakapan hidup yang mampu menjawab kebutuhan warga belajar pada usia produktif. Kelompok usia ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan peserta didik pada pendidikan formal. Mereka umumnya sudah memiliki pengalaman hidup, tanggung jawab sosial, serta kebutuhan belajar yang lebih spesifik. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang diberikan perlu dirancang secara lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Dalam kehidupan modern yang penuh dengan perubahan, keterampilan tersebut menjadi sangat penting. Individu yang memiliki kecakapan hidup yang baik cenderung lebih mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan, menghadapi berbagai tantangan kehidupan, serta memanfaatkan peluang yang ada untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Oleh karena itu, pendidikan kecakapan hidup menjadi salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam berbagai program pendidikan masyarakat.
Model BLiSE yang dikembangkan dalam penelitian ini menggabungkan konsep pendidikan kecakapan hidup dengan pendekatan blended learning. Blended learning merupakan model pembelajaran yang memadukan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran berbasis teknologi digital. Pendekatan ini memungkinkan proses belajar berlangsung secara lebih fleksibel karena tidak sepenuhnya bergantung pada pertemuan langsung di kelas.
Melalui pendekatan ini, warga belajar dapat mengakses materi pembelajaran melalui berbagai media digital seperti modul elektronik, video pembelajaran, atau platform diskusi daring. Pada saat yang sama, proses pembelajaran tatap muka tetap dilakukan untuk memberikan ruang interaksi langsung antara tutor dan warga belajar. Kombinasi kedua pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih kaya dan bermakna.
Penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran juga membuka peluang untuk menghadirkan berbagai bentuk media belajar yang lebih interaktif. Contohnya seperti, materi pembelajaran dapat disajikan dalam bentuk video tutorial, simulasi, maupun diskusi daring yang memungkinkan warga belajar berpartisipasi secara aktif. Hal ini dapat membantu meningkatkan motivasi belajar sekaligus memperkaya pengalaman belajar warga belajar.
Bagi warga belajar usia produktif yang memiliki berbagai tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari, fleksibilitas dalam proses belajar menjadi faktor yang sangat penting. Banyak dari mereka yang tidak memiliki waktu untuk mengikuti pembelajaran secara rutin di kelas karena harus bekerja atau menjalankan aktivitas lain. Dengan adanya model pembelajaran blended seperti BLiSE, proses belajar dapat dilakukan secara lebih fleksibel sesuai dengan waktu yang dimiliki oleh warga belajar.
Selain itu, model ini juga memberikan ruang bagi warga belajar untuk belajar secara mandiri. Melalui akses terhadap berbagai sumber belajar digital, mereka dapat mempelajari materi sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar masing-masing. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pendidikan orang dewasa yang menekankan pada kemandirian belajar serta pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan individu.
Melalui penelitian ini, diharapkan tercipta model pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan keterampilan warga belajar, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri serta kemandirian mereka dalam menjalani kehidupan. Pendidikan kecakapan hidup yang terintegrasi dengan teknologi digital dapat menjadi salah satu langkah penting dalam membangun masyarakat yang lebih berdaya, kreatif, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.