Belajar Sepanjang Hayat di Era Perubahan: Relevansi Konsep Lifelong Learning
Surabaya, S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA — Perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi menuntut manusia untuk terus belajar tanpa henti. Konsep lifelong learning menjadi kunci agar setiap individu mampu beradaptasi dan bertumbuh di tengah ketidakpastian zaman. Pendidikan luar sekolah memegang peran penting dalam menghidupkan semangat belajar sepanjang hayat ini.
UNESCO melalui Delors Report
(1996) memperkenalkan empat pilar pendidikan: learning to know, learning
to do, learning to live together, dan learning to be.
Keempatnya membentuk fondasi bagi proses belajar manusia seumur hidup. Belajar
tidak hanya berarti memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan,
karakter, dan empati sosial.
Masyarakat modern membutuhkan
fleksibilitas dalam belajar. Mereka harus mampu menyesuaikan diri dengan
perubahan pekerjaan, teknologi, dan nilai sosial. Pendidikan luar sekolah
menyediakan ruang bagi pembelajaran yang adaptif, nonformal, dan sesuai kebutuhan
hidup masyarakat.
Belajar sepanjang hayat tidak
terbatas pada lembaga pendidikan. Ia terjadi di setiap ruang kehidupan: di
tempat kerja, di rumah, di komunitas, bahkan di dunia digital. Proses belajar
yang berkelanjutan memperkuat daya saing sekaligus menumbuhkan kemanusiaan.
Delors menekankan bahwa lifelong
learning adalah hak dan tanggung jawab setiap individu. Ketika masyarakat
menyadari hal ini, mereka menjadi pembelajar otonom yang mencari ilmu bukan
karena kewajiban, tetapi karena kesadaran akan pentingnya tumbuh dan
berkontribusi.
Pendidikan luar sekolah berperan
sebagai katalis yang menghubungkan pengalaman hidup dengan tujuan pembelajaran.
Melalui program literasi, pelatihan vokasional, atau kegiatan komunitas,
masyarakat dapat terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka sesuai
tantangan zaman.
Semangat belajar sepanjang hayat
menciptakan masyarakat yang tidak takut pada perubahan. Mereka memandang setiap
perubahan sebagai peluang untuk memperdalam makna hidup dan memperluas peran
sosialnya. Di sinilah pendidikan luar sekolah menegaskan misinya: menjadikan
belajar sebagai perjalanan hidup, bukan sekadar tahap menuju ijazah.
Penulis: Tim Redaksi S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA
Editor: XYF