Belajar Sepanjang Hayat Fondasi Utama Pendidikan Luar Sekolah
Surabaya, S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA — Gagasan belajar sepanjang hayat bukan hanya slogan pendidikan modern, tetapi menjadi fondasi utama dalam mewujudkan masyarakat pembelajar. Pendidikan luar sekolah berperan penting menghidupkan semangat belajar tanpa batas usia, waktu, atau ruang.
UNESCO melalui Delors Report
(1996) menegaskan bahwa belajar sepanjang hayat merupakan pilar utama
pembangunan manusia. Laporan tersebut menyebut empat pilar belajar, yaitu learning
to know, learning to do, learning to live together, dan learning
to be. Keempat pilar ini menjadi dasar bagi pendidikan yang membebaskan dan
berorientasi pada pengembangan manusia seutuhnya.
Pendidikan luar sekolah
menempatkan prinsip tersebut dalam praktik nyata. Warga belajar tidak hanya
mempelajari pengetahuan teoretis, tetapi juga mengasah keterampilan hidup yang
relevan dengan konteks sosial dan ekonomi mereka. Proses belajar berlangsung
fleksibel, menyesuaikan dengan kebutuhan dan pengalaman individu.
Setiap warga belajar memiliki
potensi untuk terus berkembang. Tutor dan fasilitator berperan sebagai
pendamping yang membuka ruang refleksi dan pengalaman baru. Pembelajaran tidak
lagi terbatas pada usia sekolah, melainkan menjadi bagian dari perjalanan hidup
manusia.
Laporan UNESCO (2015) menegaskan
bahwa masyarakat yang belajar sepanjang hayat cenderung lebih tangguh,
inklusif, dan produktif dalam menghadapi perubahan global.
Pendidikan luar sekolah
memperkuat nilai tersebut melalui program-program pemberdayaan, pelatihan
keterampilan, dan literasi masyarakat. Proses ini menumbuhkan kepercayaan diri
serta kemampuan adaptasi di tengah perubahan sosial yang cepat.
Belajar sepanjang hayat tidak
sekadar tentang menambah pengetahuan, tetapi tentang memelihara rasa ingin tahu
dan semangat untuk berkembang. Masyarakat yang terus belajar akan mampu
membangun peradaban yang terbuka, kritis, dan berkeadilan.
Penulis: Tim Redaksi S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA
Editor: XYF