Pembelajaran Sepanjang Hayat sebagai Paradigma Utama Pendidikan Luar Sekolah
Pls.unesa.ac.id – 12/12/2025
Pembelajaran sepanjang hayat merupakan paradigma utama yang membedakan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dari jalur pendidikan formal. Dalam konteks masyarakat yang terus berubah secara sosial, ekonomi, dan teknologi, kebutuhan belajar tidak lagi terbatas pada usia sekolah. Mahasiswa S2 Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Surabaya melakukan kajian reflektif terhadap peran pembelajaran sepanjang hayat sebagai fondasi pengembangan pendidikan nonformal di Indonesia.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran sepanjang hayat menjadi jawaban atas tantangan ketimpangan akses pendidikan dan perubahan kebutuhan kompetensi masyarakat. Pendidikan nonformal memungkinkan warga belajar dari berbagai latar belakang usia, pendidikan, dan pekerjaan untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Program seperti pendidikan kesetaraan, pelatihan keterampilan, literasi digital, dan pendidikan keluarga menjadi wujud nyata implementasi pembelajaran sepanjang hayat.
Dalam wawancara, salah satu praktisi pendidikan nonformal menyampaikan bahwa, “Belajar tidak berhenti ketika seseorang lulus sekolah. Justru di masyarakat, proses belajar itu berlangsung terus menerus sesuai kebutuhan hidup.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pembelajaran sepanjang hayat bukan konsep abstrak, melainkan praktik nyata dalam kehidupan masyarakat.
Dari perspektif Pendidikan Luar Sekolah, pembelajaran sepanjang hayat menempatkan warga belajar sebagai subjek aktif yang memiliki kendali atas proses belajarnya. Mahasiswa mencatat bahwa pendekatan andragogi, pembelajaran kontekstual, dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan program pendidikan nonformal. Tutor dan fasilitator berperan sebagai pendamping yang membantu warga belajar mengembangkan potensi dan refleksi diri.
Kajian ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran sepanjang hayat berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Warga belajar yang terlibat dalam program pendidikan nonformal cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi, kemampuan adaptasi yang lebih baik, serta kesiapan menghadapi perubahan sosial dan ekonomi. Hal ini memperkuat peran pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan, bukan sekadar transfer pengetahuan.
Namun demikian, mahasiswa mengidentifikasi bahwa penguatan pembelajaran sepanjang hayat masih menghadapi tantangan, seperti rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan akses layanan pendidikan nonformal, serta perlunya dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, Pendidikan Luar Sekolah memerlukan penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan sinergi lintas sektor.
Berdasarkan hasil kajian, mahasiswa merumuskan beberapa poin penting dalam penguatan pembelajaran sepanjang hayat, antara lain:
1). penguatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya belajar sepanjang hayat.
2). perluasan akses pendidikan nonformal yang inklusif.
3). peningkatan kualitas tutor dan fasilitator.
4). pengembangan program berbasis kebutuhan nyata masyarakat.
5). penguatan kemitraan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas.
Kajian ini menegaskan bahwa pembelajaran sepanjang hayat merupakan paradigma inti Pendidikan Luar Sekolah. Melalui pendekatan yang inklusif, kontekstual, dan partisipatif, pendidikan nonformal mampu menjawab tantangan pembangunan manusia secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, S2 Pendidikan Luar Sekolah memiliki peran strategis dalam menghasilkan pemikir, praktisi, dan pengembang pendidikan masyarakat yang berorientasi pada masa depan.