Pendidikan Emansipatoris: Membangun Kesadaran Kritis di Era Digital
Surabaya, S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA — Pendidikan emansipatoris menempatkan kebebasan berpikir dan kesadaran kritis sebagai inti proses belajar. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan berpikir kritis menjadi benteng utama agar masyarakat tidak terjebak dalam budaya pasif dan konsumtif.
Paulo Freire (1970)
memperkenalkan konsep conscientization, yaitu proses membangun kesadaran
kritis melalui dialog dan refleksi atas realitas sosial. Pendidikan yang
emansipatoris tidak menempatkan peserta didik sebagai penerima informasi,
melainkan sebagai subjek yang aktif mengonstruksi makna dan tindakan sosial.
Dalam konteks pendidikan luar
sekolah, pendekatan ini melatih masyarakat untuk membaca realitas kehidupan
mereka sendiri. Tutor berperan sebagai fasilitator yang memancing dialog, bukan
instruktur yang mendikte jawaban. Setiap pengalaman hidup warga belajar menjadi
sumber utama dalam proses pembelajaran.
Era digital menghadirkan peluang
besar bagi praktik pendidikan emansipatoris. Akses terhadap data, media sosial,
dan teknologi komunikasi dapat menjadi sarana pembebasan apabila digunakan
secara kritis. Warga belajar dapat memanfaatkan platform digital untuk berbagi
gagasan, menulis opini, dan membangun jaringan sosial yang memperkuat suara
masyarakat.
Proses pendidikan yang
membebaskan selalu menekankan tiga tahap: refleksi, kesadaran, dan aksi. Ketika
masyarakat menyadari ketimpangan atau masalah sosial yang mereka hadapi, proses
belajar berubah menjadi tindakan nyata yang mengarah pada perubahan struktural.
Freire menegaskan bahwa
pendidikan harus berorientasi pada pembebasan, bukan penjinakan. Pendidikan
luar sekolah memiliki kekuatan untuk mewujudkan hal itu melalui kegiatan
literasi media, forum warga, dan dialog komunitas yang melatih keberanian
berpikir kritis serta tanggung jawab sosial.
Membangun kesadaran kritis di era
digital berarti membentuk warga yang tidak sekadar cerdas secara teknologi,
tetapi juga bijak dalam menafsirkan dan memanfaatkan informasi. Inilah wujud
nyata pendidikan emansipatoris yang membebaskan manusia dari belenggu
ketidaktahuan dan ketergantungan.
Penulis: Tim Redaksi S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA
Editor: XYF