Pendidikan Humanistik di Era Digital: Mengembalikan Makna Belajar yang Manusiawi
Surabaya, S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA — Pendidikan di era digital sering kali terjebak dalam pola mekanistik. Proses belajar cenderung mengejar efisiensi, bukan makna. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, pendidikan humanistik mengingatkan bahwa manusia harus tetap menjadi pusat dari setiap proses pembelajaran.
Carl Rogers (1969) menegaskan
bahwa belajar sejati terjadi ketika individu mengalami keterlibatan emosional,
kebebasan berpikir, dan rasa tanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.
Pendekatan ini menempatkan peserta didik bukan sebagai objek, melainkan sebagai
subjek yang memiliki potensi dan otonomi.
Pendidikan luar sekolah memiliki
ruang luas untuk menerapkan prinsip humanistik. Proses belajar yang berbasis
pengalaman dan kebutuhan individu membuat pendekatan ini lebih relevan
dibanding sistem yang seragam dan kaku. Tutor berperan sebagai pendamping yang
memfasilitasi, bukan mendikte arah belajar.
Era digital menghadirkan
tantangan dan peluang. Teknologi dapat mempercepat akses pengetahuan, tetapi
juga berisiko mengurangi interaksi manusiawi. Pendidikan humanistik mendorong
penggunaan teknologi secara sadar, agar hubungan antarindividu tetap menjadi
inti dari proses belajar.
Rogers menekankan pentingnya empathy
dan authenticity dalam proses pendidikan. Tutor yang empatik mampu
memahami kebutuhan emosional peserta didik, sementara keaslian sikap membangun
kepercayaan dan rasa aman. Dua hal ini menjadi fondasi penting dalam
pembelajaran berbasis kemanusiaan.
Proses belajar yang humanistik
mendorong peserta untuk menemukan makna pribadi dari setiap pengalaman. Mereka
tidak sekadar memahami informasi, tetapi menginternalisasi nilai-nilai yang
memperkaya kehidupan. Di sinilah pendidikan berfungsi sebagai proses
transformasi diri, bukan sekadar transmisi pengetahuan.
Pendidikan luar sekolah memiliki
potensi besar untuk menghidupkan kembali semangat humanistik di era digital.
Melalui pendekatan partisipatif, dialog reflektif, dan pembelajaran berbasis
pengalaman, masyarakat dapat belajar dengan lebih bermakna dan manusiawi.
Menjadikan manusia sebagai pusat
pembelajaran berarti memulihkan kembali esensi pendidikan: membantu setiap
individu tumbuh menjadi dirinya yang terbaik, dengan kesadaran, empati, dan
tanggung jawab sosial.
Penulis: Tim Redaksi S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA
Editor: XYF