Pendidikan Inklusif di Komunitas: Membangun Akses Belajar Tanpa Batas
Surabaya, S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA — Pendidikan yang adil dan setara hanya terwujud ketika setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, tanpa terkendala latar belakang sosial, ekonomi, atau fisik. Pendidikan luar sekolah memainkan peran strategis dalam membuka akses belajar bagi semua kalangan melalui pendekatan inklusif yang menempatkan manusia sebagai pusatnya.
UNESCO melalui agenda Education
for All menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pendidikan
sepanjang hayat tanpa diskriminasi. Prinsip ini menuntut sistem pendidikan
untuk adaptif dan menghargai keberagaman. Pendidikan luar sekolah menjawab
tantangan ini dengan menghadirkan ruang belajar yang fleksibel dan kontekstual
bagi masyarakat yang sering terpinggirkan.
Pendidik masyarakat perlu
memastikan bahwa setiap warga belajar merasa diterima dan dihargai. Sikap
terbuka dan empatik menjadi kunci utama dalam membangun suasana belajar yang
aman. Ketika peserta merasa dihormati, mereka akan lebih berani berpartisipasi
dan mengekspresikan dirinya.
Booth dan Ainscow (2002)
menjelaskan bahwa inklusi tidak hanya berarti menerima semua peserta belajar,
tetapi juga mengubah struktur, kurikulum, dan praktik agar setiap orang dapat
berpartisipasi secara bermakna.
Pendidikan inklusif di komunitas
tidak hanya fokus pada penyandang disabilitas, tetapi juga meliputi kelompok
miskin, perempuan, lansia, pekerja informal, hingga anak jalanan. Setiap
kelompok memiliki kebutuhan dan tantangan belajar yang berbeda. Pendekatan PLS
yang fleksibel membuat semua kelompok ini dapat belajar sesuai dengan ritme dan
konteks kehidupannya.
Program literasi fungsional,
pelatihan keterampilan, dan kegiatan pemberdayaan sosial menjadi bentuk nyata
penerapan inklusi dalam pendidikan masyarakat. Tutor dan fasilitator dapat
menyesuaikan metode, bahasa, maupun media pembelajaran agar lebih mudah diakses
oleh semua peserta.
Pendidikan luar sekolah
membuktikan bahwa belajar tidak harus seragam. Ketika keberagaman diterima
sebagai kekuatan, proses belajar menjadi lebih manusiawi dan bermakna. Inklusi
bukan hanya kebijakan, melainkan cermin dari nilai kemanusiaan yang menjadi dasar
pendidikan itu sendiri.
Penulis: Tim Redaksi S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA
Editor: XYF