Peran Pendidik Masyarakat dalam Membangun Kesadaran Kritis
Surabaya, S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA — Pendidikan luar sekolah bukan hanya tentang mentransfer pengetahuan, tetapi tentang membangun kesadaran kritis agar masyarakat mampu memahami realitas sosial dan mengubahnya. Pendidik masyarakat memegang peran sentral dalam menumbuhkan kesadaran ini melalui proses dialogis yang membebaskan.
Paulo Freire (1970)
memperkenalkan konsep conscientization atau kesadaran kritis, yaitu
proses ketika seseorang mampu membaca dunia di sekitarnya secara reflektif dan
bertindak untuk memperbaikinya. Menurut Freire, pendidikan sejati terjadi
ketika pendidik dan peserta belajar berdialog secara setara untuk memahami dan
mengatasi penindasan.
Pendidik masyarakat berperan
sebagai penggerak dialog. Ia tidak menempatkan diri sebagai sumber kebenaran,
melainkan sebagai rekan berpikir yang membantu warga belajar memahami realitas
sosialnya. Proses ini mendorong warga untuk bertanya, mengkritisi, dan mencari
solusi berdasarkan pengalaman hidup mereka sendiri.
Freire menegaskan bahwa
pendidikan yang membebaskan dimulai dari dialog dan refleksi tindakan
(praxis), bukan dari ceramah satu arah.
Pendekatan ini relevan bagi
konteks pendidikan luar sekolah di Indonesia yang masih berhadapan dengan
masalah kemiskinan, ketimpangan, dan keterbatasan akses informasi. Melalui
pendidikan yang dialogis, warga belajar tidak hanya memahami situasi mereka, tetapi
juga memiliki keberanian untuk bertindak dan berdaya.
Pendidik masyarakat dapat
menggunakan metode partisipatif seperti diskusi kelompok, pemetaan sosial, atau
permainan edukatif untuk menggali pengalaman dan pandangan warga. Kegiatan
tersebut menumbuhkan rasa percaya diri dan kemampuan berpikir kritis yang
menjadi dasar perubahan sosial.
Kesadaran kritis tidak muncul
dalam waktu singkat. Proses ini memerlukan kepekaan, empati, dan ketekunan
pendidik dalam mendampingi masyarakat. Namun, ketika warga mulai mampu
berbicara atas nama dirinya sendiri dan mengambil keputusan untuk memperbaiki kehidupannya,
tujuan pendidikan luar sekolah telah tercapai.
Pendidik masyarakat bukan hanya
pengajar, melainkan fasilitator perubahan sosial. Ia menyalakan api kesadaran
agar masyarakat tidak berhenti menjadi penerima, tetapi tumbuh sebagai subjek
yang mampu menciptakan masa depan mereka sendiri.
Penulis: Tim Redaksi S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA
Editor: XYF