Strategi Efektif Mengelola Kelompok Belajar Masyarakat (Pokjar)
Surabaya, S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA — Kelompok Belajar Masyarakat (Pokjar) menjadi wadah penting bagi warga untuk mengembangkan keterampilan, memperluas wawasan, dan memperkuat solidaritas sosial. Keberhasilan Pokjar tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas, tetapi juga oleh strategi pengelolaan kelompok yang efektif dan berkelanjutan.
Bruce Tuckman (1965) menjelaskan
bahwa kelompok berkembang melalui empat tahap: forming, storming, norming,
dan performing. Pemahaman terhadap dinamika ini membantu pengelola
Pokjar menyesuaikan pendekatan dalam setiap fase, agar kelompok tumbuh secara
sehat dan produktif.
1. Tahap Pembentukan
(Forming): Membangun Keakraban dan Tujuan
Tahap awal ditandai oleh
perkenalan dan pencarian arah. Pengelola perlu memfasilitasi proses saling
mengenal, memperjelas tujuan belajar, dan membangun rasa aman di antara
anggota. Kegiatan seperti permainan pengenalan, diskusi ringan, atau penyusunan
visi bersama dapat mempercepat proses adaptasi.
2. Tahap Konflik (Storming):
Mengelola Perbedaan
Setiap kelompok pasti mengalami
perbedaan pendapat. Tantangan muncul ketika ego dan cara pandang individu mulai
berbenturan. Pengelola Pokjar perlu berperan sebagai mediator yang adil,
mengarahkan perbedaan menjadi peluang refleksi dan pertumbuhan kelompok.
Pendekatan komunikasi terbuka menjadi kunci untuk melewati tahap ini.
3. Tahap Normalisasi
(Norming): Menetapkan Aturan dan Nilai Bersama
Pada tahap ini, kelompok mulai
menemukan irama kerja yang harmonis. Pengelola dapat memfasilitasi penyusunan
aturan, pembagian peran, dan komitmen bersama. Nilai seperti saling menghargai,
tanggung jawab, dan kehadiran aktif perlu disepakati agar kegiatan berjalan
konsisten.
4. Tahap Kinerja (Performing):
Mendorong Kolaborasi dan Kreativitas
Ketika kelompok mencapai tahap
ini, anggota telah memiliki rasa memiliki dan mampu bekerja sama secara
efektif. Pengelola berperan sebagai fasilitator yang mendorong inovasi dan
keberlanjutan. Kegiatan belajar dapat diarahkan pada proyek nyata seperti pelatihan
kewirausahaan, kegiatan literasi, atau program sosial berbasis komunitas.
Manajemen Pokjar yang efektif
bukan sekadar soal administrasi, tetapi tentang seni mengelola manusia dan
dinamika sosial. Ketika pengelola memahami bahwa setiap tahap perkembangan
kelompok membutuhkan pendekatan berbeda, Pokjar dapat menjadi ruang belajar
yang hidup, adaptif, dan memberdayakan.
Penulis: Tim Redaksi S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA
Editor: XYF