Strategi Efektif Mengembangkan Literasi Digital bagi Masyarakat Dewasa
Surabaya, S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA — Literasi digital menjadi keterampilan dasar di era informasi. Masyarakat dewasa perlu memahami cara menggunakan teknologi bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk meningkatkan produktivitas, mencari peluang ekonomi, dan memperluas jaringan sosial. Pengembangan literasi digital yang efektif harus memperhatikan karakteristik belajar orang dewasa dan konteks sosial tempat mereka hidup.
Albert Bandura (1977) melalui Social
Learning Theory menjelaskan bahwa manusia belajar dengan mengamati, meniru,
dan memodelkan perilaku orang lain. Teori ini relevan dalam pelatihan literasi
digital, karena peserta dewasa cenderung belajar melalui contoh konkret dan
interaksi sosial yang bermakna.
Berikut strategi efektif untuk
mengembangkan literasi digital bagi masyarakat dewasa:
1. Menyediakan Model
Pembelajaran Nyata
Peserta belajar lebih cepat
ketika melihat contoh langsung. Fasilitator dapat menampilkan cara menggunakan
aplikasi, mengelola media sosial, atau membuat konten digital secara bertahap.
Pengamatan terhadap model yang sukses memotivasi peserta untuk meniru dan
mencoba.
2. Menggunakan Pendekatan
Partisipatif
Fasilitator perlu melibatkan
peserta secara aktif dalam proses belajar. Kegiatan seperti praktik langsung,
proyek kelompok, atau tantangan digital membuat peserta merasa memiliki kontrol
atas pembelajaran. Bandura menekankan pentingnya self-efficacy —
keyakinan bahwa seseorang mampu melakukan sesuatu dengan berhasil.
3. Mengaitkan Teknologi dengan
Kehidupan Sehari-Hari
Pembelajaran menjadi bermakna
ketika peserta melihat manfaat nyata dari teknologi. Fasilitator dapat
mengaitkan literasi digital dengan aktivitas rutin, seperti promosi usaha kecil
melalui media sosial, mengakses layanan publik online, atau berkomunikasi
dengan keluarga.
4. Membangun Lingkungan Sosial
yang Mendukung
Belajar digital tidak berhenti di
ruang pelatihan. Fasilitator perlu membentuk komunitas belajar daring tempat
peserta bisa berbagi pengalaman, bertanya, dan saling memberi dukungan.
Lingkungan sosial yang positif memperkuat kebiasaan digital yang produktif.
5. Memberikan Umpan Balik dan
Penguatan Positif
Umpan balik cepat membantu
peserta memperbaiki kesalahan dan meningkatkan kepercayaan diri. Fasilitator
dapat memberi apresiasi atas kemajuan peserta, sekecil apa pun. Bandura
menegaskan bahwa penguatan positif mempercepat proses pembentukan perilaku baru.
Pengembangan literasi digital
bagi masyarakat dewasa bukan sekadar transfer keterampilan, tetapi proses
sosial yang menumbuhkan kepercayaan diri, kolaborasi, dan kesadaran kritis
terhadap penggunaan teknologi. Ketika pembelajaran berbasis observasi dan praktik
diterapkan secara konsisten, masyarakat dewasa mampu menjadi pengguna teknologi
yang cerdas dan mandiri.
Penulis: Tim Redaksi S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA
Editor: XYF