Transformasi Pembelajaran Masyarakat melalui Pendekatan Partisipatif
Pls.unesa.ac.id – 23/12/2025
Perubahan dinamika sosial dan kebutuhan belajar masyarakat menuntut adanya transformasi dalam penyelenggaraan pendidikan nonformal. Dalam konteks Pendidikan Luar Sekolah (PLS), pendekatan partisipatif menjadi strategi penting untuk memastikan bahwa pembelajaran masyarakat berjalan relevan, inklusif, dan memberdayakan. Mahasiswa S2 Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Surabaya melakukan kajian reflektif terhadap penerapan pendekatan partisipatif dalam pembelajaran masyarakat.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif mampu meningkatkan keterlibatan aktif warga belajar dalam proses pendidikan nonformal. Warga belajar tidak lagi diposisikan sebagai penerima materi semata, melainkan sebagai subjek pembelajaran yang memiliki pengalaman, gagasan, dan kebutuhan belajar yang berharga. Pola ini mendorong terciptanya suasana belajar yang dialogis dan setara.
Dalam wawancara, salah satu fasilitator pendidikan masyarakat menyampaikan bahwa, “Ketika warga dilibatkan sejak perencanaan, mereka merasa memiliki program dan lebih bertanggung jawab terhadap proses belajar.” Pernyataan ini menegaskan bahwa partisipasi bukan hanya metode, tetapi juga strategi membangun rasa kepemilikan dan keberlanjutan program.
Dari perspektif pendidikan nonformal, pendekatan partisipatif selaras dengan prinsip andragogi yang menekankan kemandirian dan pengalaman warga belajar dewasa. Mahasiswa mencatat bahwa diskusi kelompok, pemecahan masalah berbasis konteks lokal, dan refleksi bersama menjadi metode yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran masyarakat.
Kajian ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran partisipatif berkontribusi pada penguatan kapasitas sosial masyarakat. Warga belajar tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mengembangkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, dan mengambil keputusan secara kolektif. Hal ini memperkuat fungsi pendidikan nonformal sebagai ruang pembelajaran sosial.
Namun demikian, mahasiswa mengidentifikasi bahwa penerapan pendekatan partisipatif memerlukan kesiapan fasilitator dan kelembagaan. Tanpa kemampuan fasilitasi yang memadai, partisipasi berisiko menjadi simbolik. Oleh karena itu, penguatan kapasitas fasilitator menjadi prasyarat penting dalam transformasi pembelajaran masyarakat.
Berdasarkan hasil kajian, mahasiswa merumuskan beberapa poin penting dalam penguatan pembelajaran masyarakat berbasis partisipatif, antara lain:
1). pelibatan warga belajar sejak tahap perencanaan program;
2). penghargaan terhadap pengalaman dan pengetahuan lokal;
3). penerapan metode dialogis dan reflektif;
4). peran fasilitator sebagai pendamping, bukan pengendali;
5). evaluasi pembelajaran berbasis proses dan dampak sosial.
Kajian ini menegaskan bahwa pendekatan partisipatif merupakan kunci transformasi pembelajaran masyarakat. Pendidikan Luar Sekolah memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa pendidikan nonformal benar-benar menjadi ruang belajar yang demokratis, bermakna, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.