Tutorial Menyusun Modul Pembelajaran untuk Pelatihan Masyarakat
Surabaya, S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA — Modul pembelajaran berperan penting dalam kegiatan pelatihan masyarakat. Modul yang baik membantu peserta belajar secara mandiri, memahami materi secara bertahap, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Dalam konteks pendidikan luar sekolah, penyusunan modul perlu menyesuaikan kebutuhan, karakteristik, dan konteks sosial peserta belajar.
Robert M. Gagné (1985)
menjelaskan bahwa pembelajaran efektif bergantung pada urutan penyajian materi
dan perancangan kegiatan yang memfasilitasi sembilan peristiwa belajar (nine
events of instruction). Prinsip ini dapat menjadi panduan praktis dalam
menyusun modul pelatihan yang terstruktur dan menarik.
Berikut langkah-langkah dalam
menyusun modul pembelajaran untuk pelatihan masyarakat:
1. Menetapkan Tujuan
Pembelajaran
Langkah pertama ialah merumuskan
hasil belajar yang diharapkan. Tujuan harus menggambarkan kemampuan konkret
yang akan dicapai peserta setelah mengikuti pelatihan. Gunakan kata kerja
operasional yang terukur, seperti mengidentifikasi, mempraktikkan, atau menghasilkan.
2. Menentukan Urutan Materi
Berdasarkan Hierarki Belajar
Gagné menekankan bahwa setiap
keterampilan memiliki hierarki. Artinya, peserta harus menguasai kemampuan
dasar sebelum naik ke tingkat yang lebih kompleks. Tutor perlu menyusun materi
dari yang sederhana menuju yang lebih sulit agar proses belajar berlangsung
alami dan logis.
3. Menyusun Komponen Modul
Secara Sistematis
Sebuah modul idealnya terdiri
atas:
- Sampul dan pengantar: menjelaskan konteks
dan manfaat pembelajaran.
- Tujuan pembelajaran: menjabarkan kompetensi
yang ingin dicapai.
- Materi pokok: memuat isi yang disusun secara
bertahap.
- Latihan dan aktivitas: memberikan kesempatan
bagi peserta untuk menerapkan konsep.
- Rangkuman dan evaluasi: menegaskan kembali
poin penting dan mengukur pemahaman.
4. Menggunakan Bahasa yang
Jelas dan Komunikatif
Bahasa modul harus sederhana,
langsung, dan mudah dipahami. Hindari istilah teknis tanpa penjelasan. Kalimat
aktif membantu menjaga keterlibatan pembaca dan memperkuat pesan pembelajaran.
5. Menyertakan Unsur Visual
dan Contoh Nyata
Gunakan ilustrasi, tabel, dan
studi kasus yang sesuai dengan konteks kehidupan peserta. Visual memperkuat
pemahaman, sedangkan contoh nyata membantu peserta mengaitkan materi dengan
pengalaman sehari-hari.
6. Melakukan Uji Coba dan
Revisi
Sebelum modul digunakan secara
luas, lakukan uji coba terhadap sekelompok kecil peserta. Perhatikan respons,
kesulitan, dan saran perbaikan. Revisi berdasarkan hasil uji coba memastikan
modul lebih efektif dan mudah digunakan.
Modul yang baik mencerminkan
filosofi pendidikan luar sekolah: belajar sepanjang hayat, berbasis pengalaman,
dan berorientasi pada pemberdayaan. Ketika tutor mampu menyusun modul yang
komunikatif dan kontekstual, pelatihan masyarakat menjadi sarana nyata untuk
meningkatkan kapasitas dan kemandirian warga belajar.
Penulis: Tim Redaksi S2 Pendidikan Luar Sekolah UNESA
Editor: XYF